Ocit Abdurrosyid Siddiq : Debat Beradab

Ocit Abdurrosyid Siddiq : Debat Beradab

Media sosial - Facebook dan WhatsApp diantaranya - merupakan sarana bagi kita untuk berkomunikasi, silaturahmi, dan berbagi informasi. Lebih dari itu, bahkan media sosial bisa kita manfatkan sebagai sarana untuk menuangkan ide dan pemikiran dalam bentuk tulisan.

Ide dan pemikiran orang itu beragam. Bahkan berbeda. Perbedaan itu dipengaruhi oleh bermacam faktor. Seperti referensi yang dibaca, faktor doktrin guru atau ustadz ketika belajar, juga karena faktor lingkungan.

Perbedaan ini tidak bisa dipungkiri. Perbedaan pendapat tidak bisa dipaksakan untuk sama. Justru dengan berbeda itulah semakin menambah khazanah keilmuan kita. Kita akhirnya tahu bahwa demikian luas dan kompleksnya perkembangan ilmu dan pengetahuan manusia.

Ditangan orang cerdas, perbedaan ini bisa positif. Seperti halnya ketika 4 orang sahabat Nabi SAW mengartikan “ilaa hiin” dalam Al-Quran. Keempatnya tidak sama pendapatnya atas tafsir dan maksud kalimat itu. Saat konfirmasi kepada Nabi SAW, beliau menyarankan “silakan ambil makna yang kamu anggap lebih memudahkan kamu”. Cerdas dan elegant kan?

Bila benar bahwa “perbedaan diantara umat adalah rahmat”, maka pada contoh diataslah pembuktiannya. Tapi sebaliknya, ditangan awam, perbedaan malah berpotensi menjadi pemecah. Pecah persatuan, pecah silaturahmi, pecah persahabatan, bahkan pecah kekeluargaan.

Sebuah tulisan sebagai representasi dari pemikiran yang saya tuangkan di media sosial, pun kerap mendapat respon beragam. Ada yang setuju, dengan menyampaikan apresiasi dan dukungan. Ada yang menolak, dengan argumentasi yang tentu saja berbeda.

Yang menolak, kadang menyampaikan sanggahan dengan argumentasi yang runtut, sistematis, dan didukung referensi. Penanggap model begini asik untuk dijadikan mitra diskusi. Walau pada perdebatan selanjutnya kadang belum menemukan poros kesamaan, tapi dialektikanya jalan.

Tapi ada pula penanggap yang memiliki tipikal suka langsung ngegas, dengan pilihan diksi yang sarkastis, ditambah dengan logika yang tidak sistematis. Saya lebih memilih untuk tidak menanggapi komentator model begini. Karena penjelasan ulang hanya akan menuai serapah yang juga diulang.

Itulah mengapa, saya tidak suka dan tidak menyukai untuk merespon ulang atas sebuah tanya atau konfirmasi, dengan jawaban parsial. Karena kadang dengan cara demikian, hanya akan berkutat pada debat kusir, yang tidak produktif.

Mari kita jadikan media sosial ini sebagai sarana bertukar pikiran. Berdiskusi dengan santuy, dan berdebat secara beradab.

(Red)

Uce Saepudin

Uce Saepudin

Previous Article

Diduga Akan Selundupkan 12.117 Benih Lobster,...

Next Article

Si Jago Merah Luluh Lantakan Rumah Milik...

Related Posts

Peringkat

Profle

Achmad Sarjono verified

Afrizal

Afrizal verified

Postingan Bulan ini: 249

Postingan Tahun ini: 844

Registered: Jan 24, 2021

Herman Djide. B

Herman Djide. B verified

Postingan Bulan ini: 195

Postingan Tahun ini: 2113

Registered: Sep 22, 2020

Syafruddin Adi

Syafruddin Adi verified

Postingan Bulan ini: 192

Postingan Tahun ini: 2086

Registered: Feb 19, 2021

Agung widodo

Agung widodo

Postingan Bulan ini: 133

Postingan Tahun ini: 357

Registered: Jun 16, 2021

Profle

F.M. Ali Paser

18 Laptop SMPN 2 Panti Raib Dicuri, Sat Reskrim Polres Pasaman Ringkus Tersangka
Kadis Pendidikan Pangkep Sabrun: Semua Guru Honorer Berpeluang Jadi P3K 2021
Bayi 3 Bulan Ini Terlantar, Gara Gara Dua Ibu Saling Cakar dan Ditahan Polsek Mauk Tangerang
Ridhawati Kecewa, Pasien Sakit Disuruh  Pulang
banner banner

Follow Us

Recommended Posts

Simpan 19,66 Gram Sabu, Seorang Perempuan Ditangkap Satresnarkoba Polresta Tangerang
Pelaku Begal Mahasiswa di Rangkasbitung, Diringkus Satreskrim Polres Lebak
Pewarta FC Dikalahkan JNI Tangerang Raya FC di Laga Persahabatan
Ops Bina Kusuma, Polres Serang Kota Polda Banten Kembali Amankan Puluhan Botol Miras
Polda Banten Gelar Operasi Patuh Maung 2021 Mulai Hari Ini